•   Senin, 24 Februari 2020
Pendidikan

Carut-Marut Program Seragam Sekolah Gratis di Jombang Berdampak pada Wali Murid

( words)
Kain batik seragam sekolah SMP Negeri di Jombang. (SP/doc)


SURABAYAPAGI.COM, Jombang - Carut-marutnya program seragam gratis yang dijanjikan oleh Bupati dan wakil Bupati Jombang, Jawa Timur, berdampak pada wali murid.

Program kain batik yang rencananya akan diberikan untuk siswa baru SD/MI dan SMP/MTS gagal, lantaran terkendala hak paten.

Salah satu wali murid SMPN 1 Jombang yang enggan disebutkan namanya, RM mengatakan, dirinya dan para wali murid lainnya harus membeli kain sendiri di sekolah.

”Untuk pembayaran seragam senilai Rp 950 ribu,” katanya, Selasa (17/9/2019).

Namun, dirinya tidak bisa memperinci pembayaran seragam tersebut. Karena pihak sekolah tidak memberikan rincian untuk pembayaran. Dan terkesan tertutup.

“Katanya untuk membeli kain seragam batik khas, atribut dan ongkos jahit, total semua Rp 950 ribu. Karena memang tidak ada edaran dari pihak sekolah,” kata RM, Senin (16/9/2019).

RM yang setiap hari bekerja serabutan itu menjelaskan, bahwa untuk pembayaran seragam tersebut bisa dicicil hingga akhir semester nanti.

Kendati demikian dirinya juga masih merasa keberatan. ”Ya sebenarnya keberatan, karena katanya ada kain seragam gratis,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan YT, salah satu wali murid dari SMPN 5 Jombang yang juga enggan disebutkan namanya.

YT mengaku harus mengeluarkan biaya seragam di sekolah anaknya sebesar Rp 973 ribu. Hanya saja yang diberikan bukan kain lagi. ”Untuk seragam sudah jadi bukan berupa kain,” akunya.

Namun, lagi-lagi wali murid juga tidak bisa menyebutkan rincian untuk pembiayaan seragam itu. Terlebih lagi, setelah dibayar lunas dirinya tidak bisa mendapat kuitansi, tanda pembayaran dari pihak sekolah.

”Kemarin kan saya minta kuitansi tapi tidak dikasih. Salah satu pihak sekolah di koperasi pada saat rapat kemarin mengatakan, sudah dibilang tidak menyediakan kuitansi,” tandasnya.

Sementara, Kepala Sekolah SMPN 1 Jombang, Alim membenarkan, untuk biaya seragam keseluruhan Rp 950 ribu. Akan tetapi memang sudah dalam bentuk seragam semua tak terkecuali kain seragam gratis dari pemerintah.

“Kalau untuk kain seragam batiknya sendiri Rp 220 ribu satu stel,” paparnya. Lebih lanjut Alim memperinci, total uang yang dikeluarkan wali murid sebesar Rp 950 ribu. Murid mendapat dua seragam. Diantaranya seragam batik dan seragam khas sekolah.

”Jadi itu juga sudah ongkos jahit empat setel seragam, rompi, atribut semua dan kaos kaki. Untuk ongkos jahit sendiri Rp 70 ribu untuk satu setel seragam,” jelasnya.

Hanya saja, memang pihak sekolah juga tidak memaksakan wali murid untuk menjahitkan di sekolah. ”Untuk pembayaran juga bisa diangsur hingga akhir tahun pelajaran nantinya,” tukasnya.

Senada dengan Alim, Kepala Sekolah SMPN 5 Jombang, Bambang Wijanarko mengatakan, untuk harga kain seragam batik maupun khas yang didapatkan sudah sesuai dengan ketentuan.

”Kami tidak menambah sama sekali, ya itu Rp 220 untuk satu setel kain batik dan Rp 220 ribu untuk satu setel kain khas,” katanya.

Sedangkan untuk jahitnya, lanjutnya, ditawarkan pada wali murid, apakah ikut sekolah atau dijahitkan wali murid sendiri.

”Kalau ikut sekolah ya kami fasilitasi, tapi kalau wali murid hanya ingin berupa kain dan dijahit sendiri ya terserah,” bebernya.

Terkait biaya seragam mencapai Rp 975 ribu, Bambang menjelaskan, bahwa besaran biaya tersebut bukan hanya untuk seragam saja. ”Itu kemarin ada kegiatan satu tahun mendatangkan sekolah, HUT dan macem-macem,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, program unggulan Bupati dan Wakil Bupati Jombang yang terpilih pada Pilkada 2019 kemarin dianggap belum maksimal oleh anggota dewan.

Hal ini dikarenakan, program seragam gratis yang rencananya diberikan pada murid tahun ajaran baru dengan tujuan meringankan beban biaya wali murid, justru tidak dirasakan. Dan wali murid justru masih terbebani biaya mahal untuk sekolah anaknya.(suf)

Berita Populer